PANGKALPINANG | TuahNews.com — NEMFEST atau Nempoh Selindung Festival yang akan digelar pada 18–21 Desember 2025 di Kelurahan Selindung, Kota Pangkalpinang, menjadi bukti nyata bahwa asimilasi kultural tumbuh kuat di tengah masyarakat.
Festival budaya yang diinisiasi oleh Hafiz Hanif, warga Selindung, bersama Lurah Selindung Musyadi ini hadir sebagai upaya membangkitkan kembali “budaya ibu” di Selindung khususnya, dan Pangkalpinang pada umumnya.

Menurut para inisiator, pembangunan tanpa budaya ibarat kapal tanpa kompas—kehilangan arah dan tujuan. Karena itu, menghadirkan dan merawat kembali budaya menjadi sebuah keharusan.
Festival NemFest akan menampilkan beragam kegiatan, mulai dari pergelaran seni budaya, bazar UMKM, diskusi budaya, donor darah, jalan sehat, istigosah kubro, ceramah agama, hingga nganggung bersama (sepintu sedulang). Untuk kebutuhan bazar UMKM, panitia menyiapkan sekitar 200 stand yang menghadirkan aneka kuliner dan produk lokal.

Keterlibatan berbagai stakeholder menunjukkan bahwa inisiator merangkul banyak pihak demi keberhasilan acara ini.
“Jumlah pengunjung itu hanya bonus bagi kami,” ujar Hafiz. “Yang jauh lebih penting adalah harapan besar dari event ini—lahirnya kembali budaya ibu di daerah kita.”
Lurah Selindung, Musyadi, menambahkan bahwa NemFest sekaligus menjadi penanda dimulainya konsep SEJAGAT (Selindung–Jerambah Gantung–Tua Tunu). Setelah ketiga kelurahan tersebut ditetapkan sebagai kawasan tujuan wisata, NemFest menjadi festival budaya pertama yang diharapkan dapat berkembang menjadi agenda tahunan di Selindung.
Rencananya, acara ini akan dibuka oleh Wali Kota Pangkalpinang pada Kamis, 18 Desember 2025, dan mendapat dukungan penuh dari Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang. Festival ini juga melibatkan berbagai lembaga dan institusi, di antaranya Dewan Masjid Indonesia (DMI) untuk kegiatan istigasah kubro dan ceramah agama, PMI untuk donor darah, Gerakan Pemuda Pangkalpinang Bersatu (GPPB), serta sejumlah perusahaan dan instansi seperti PT DAK, PLN, Kantor Pajak, Puskesmas Selindung, Polairud, dan ISB Atma Luhur sebagai tuan rumah Diskusi Budaya, ditambah dukungan instansi lainnya.
Selain itu, masyarakat Selindung turut berperan aktif dalam penyelenggaraan NemFest. Perwakilan RT, RW, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pemuda setempat dilibatkan langsung dalam struktur kepanitiaan. Mereka juga telah beberapa kali mengadakan rapat pemantapan guna memastikan seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar dan meriah.
Sebagai penutup, panitia menegaskan bahwa NemFest terbuka untuk umum. Masyarakat Pangkalpinang dan sekitarnya diundang untuk hadir, menikmati berbagai kegiatan, serta ikut meramaikan gerakan kebangkitan budaya di Kota Pangkalpinang @Zen Adebi














